absisi

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang

Pada saat tertentu mungkin kita tidak sengaja melihat daun yang masih hijau atau pun daun yang sudah mulai kering menguning jatuh dari pohonnya. Mungkin hal ini sering kita lihat. Kita mengira bahwa ini adalah hal yang biasa terjadi. Peristiwa gugurnya dedaunan tumbuhan tampak seperti kejadian alam biasa, namun ternyata tidak demikian bagi para ilmuan yang meneliti sungguh-sungguh fenomena yang di namakan dengan “abscission” ini.

Daun yang kering menguning wajar saja bila lepas dari tangkainya dan jatuh ke tanah. Pendapat awal kita mungkin hal ini di karenakan tangkainya yang sudah rapuh. Muncul pertanyaan di benak kita, apa yang sebenarnya terjadi sehingga tangkai daun menjadi rapuh dan menyebabkan daun jatuh.

Pengguguran daun ini memmiliki kualitas. Dengan menggali informasi lebih dalam mengenai pengguguran daun, maka di harapkan akan tergambar secara penuh mengenai pengguguran daun (absisi), mekanisme penggugurannya serta kualitasnya.

 

* ¼çny‰YÏãur ßxÏ?$xÿtB É=ø‹tóø9$# Ÿw !$ygßJn=÷ètƒ žwÎ) uqèd 4 ÞOn=÷ètƒur $tB †Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur 4 $tBur äÝà)ó¡n@ `ÏB >ps%u‘ur žwÎ) $ygßJn=÷ètƒ Ÿwur 7p¬6ym ’Îû ÏM»yJè=àß ÇÚö‘F{$# Ÿwur 5=ôÛu‘ Ÿwur C§Î/$tƒ žwÎ) ’Îû 5=»tGÏ. &ûüÎ7•B ÇÎÒÈ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. 6:59)

Allahu Akbar, subhanallah. Semoga kita makin beriman dan bersyukur kepada Allah SWT, dengan mempelajari dan mengambil hikmah di balik semua peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Amiiinn.

 

B.     Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa yang di maksud dengan absisi?
  2. Bagaimana mekanisme dari absisi?
  3. Apa sajakah faktor yang mempngaruhi absisi dan bagaimana cara kerjanya?

 

C.    Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari makalah ini adalah:

  1. Dapat mengetahui pengertian dari absisi.
  2. Dapat menjelaskan mekanisme absisi.
  3. Dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi absisi dancara kerja dari faktor tersebut dalam mempengaruhi absisi.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Perkembangan Daun

Pertumbuhan dan Perkembangan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pertumbuhan dan Perkembangan senantiasa berjalan sejajar dan berdampingan.  Pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses bertambahnya ukuran seperti panjang, lebar, volume dan massa,Bersifat kuantitatif,Irreversibel (tidak dapat kembali ke keadaan semula). Pertumbuhan pada tumbuhan terjadi akibat kegiatan sel-sel pada jaringan meristem yang selalu membelah.    Perkembangan dapat diartikan sebagai proses menuju kedewasaan (menuju suatu keadaan yang lebih tinggi, lebih teratur dan lebih kompleks), Bersifat kualitatif, Reversibel (dapat kembali ke keadaan semula) dan Tidak dapat dinyatakan dengan ukuran, tetapi dinyatakan dengan perubahan bentuk dan tingkat kedewasaan.

Daun berasal dari primordium daun yang terdapat pada meristem puncak yang terdapat pada ujung batang. Perkembangan primordium daun sampai menjadi daun melalaui beberapa tahap yaitu:

1)  Inisiasi : Kegiatan pembelahan sel  yang paling awal terjadi pada meristem apikal berdasarkan teori meristem yang dikembangkan oleh Schmith, yang dikenal dengan teori Tunica-corpusnya, maka pada meristem apikal terdapat dua lapisan meristem yaitu lapisan Tunika yang terdiri beberapa lapis sel dan terletak pada bagian tepi dari meristem apikal. Sedangkan beberapa jenis sel yang berada  di sebelah dalamnya disebut dengan corpus. Pembelahan pertama terjadi pada daerah tunika dan beberapa lapis daerah korpus. Pada daerah tersebut sel selnya memebelah secara periklinal,sehingga akan menghasilkan massa sel yang menonjol kearah luar. Dengan demikian terbentuklah penyangga daun seperti yang  tampak pada.

2)  Pembentukan penyangga daun:  sebagai akibat adanya pembelahan secara periklinal pada daerah tunika dan korpus dan dilanjutkan dengan pembentangan sel, maka terbentuklah tonjolan kearah luar yang selanjutnya disebut sebagai penyangga daun. Penyangga daun ini akan tumbuh dan memanjang membentuk sumbu daun. Pemanjangan penyangga daun sebagai akibat adanya kegiatan meristem yang terdapat pada puncak penyangga daun itu sendiri. Dengan demikian meristem yang terlibat dalam perkembangan daun adalah meristem apical.

3)  Diferensiasi awal : penyangga daun yang telah terbentuk terdiri dari jaringan yang masih sederhana. Berdasarkan teori meristem yang dikembangkan oleh Haberlandt, jaringan yang menyusun peyangga daun terdiri  dari protoderma, meristem dasar dan prokambium. Dalam perkembangan selanjutnya, masing masing akan berkembang dan menghasilkan epidermis dan derivatnya, mesofil dan berkas pengangkut daun.

4)  Pembentukan sumbu daun: sebagai hasil pertumbuhan yang cepat maka penyangga daun akan berbentuk seperti kerucut dengan sisi adaksialnya memipih. Ujung kerucut berperan sebagai  meristem apikal. Dalam pertumbuhan selanjutnya penyangga daun akan makin bertambah panjang dan secara berangsur angsur mendekati pengkal semakin memipih. Dengan demikian primordium daun sudah dapat dibedakan antara permukaan atas atau adaksial dan permukaan bawah atau abaksial. Hal tersebut disebabkan oleh aktifitas meristem adaksial.

5)  Pembentukan helai daun: selama awal pemanjangan dan penebalan sumbu daun, sel sel adaksial bagian tepi membelah lebih cepat dibandingkan sel sel meristem dasar yang berada disebelah dalamnya. Dengan demikian terbentuklah dua garis seperti sayap yang berkembang pada kedua tepinya sebagai akibat percepatan pertumbuhan sel sel tersebut. Pada daun yang mempunyai tangkai, pertumbuhan marginal akan tertahan pada bagian pangkal sumbu daun, yang selanjutnya akan berkembang menjadi tangkai daun. Pada penampang melintangnya, kedua sisi helai daun yang sedang  berkembang tampak bahwa protoderma menyelubungi beberapa lapis jaringan dasar. Sel sel beru akan ditambahkan pada lapisan lain bersal dari dua deret inisial marginal dan inisial submarginal.

6)  Histogenesis: setelah helai daun terbentuk, proses selanjutnya adalah menyempurnakan jaringan penyusun daun.

Dalam perkembangannya, meristem yang terlibat ialah meristem apikal, meristem adaksial, meristem marginal, meristem submarginal, meristem lempeng dan meristem lateral. Meristem marginal berdiferensiasi menghasilkan epidermis atas dan epidermis bawah serta derivatnya, sedangkan meristem submarginal akan berdeferensiasi menghasilkan mesofil dan jaringan pengangkut.

 

  1. B.     Morfogenesis Daun

Proses perkembangan daun sejak inisiasi sampai terbentuknya daun yang lengkap tidak pernah terlepas oleh factor lingkungan tempat tumbuhan tersebut hidup. Denagna demikain struktur daun dewasa pada umumnya merupakan suatu ekspresi gen yang telah dipenagruhi oleh factor lingkungan. Pada umumnya factor lingkungan yang dominan dan menentukan adalah cahaya, air dan oksigen. Daun yang tumbuh pada lingkungan yang terlindung akan mempunyai struktur yang berbeda denagn daun yang tumbuh di lingkungan cahaya melimpah. Daun yang tumbuh pada lingkungan yang terlindung sehari hari akan mengalami kekuranngan cahaya. Helai daun cenderung tipis dan lebar, warna daun pucat, sedangkan daun yang tumbuh pada lingkungan cahaya melimpah helai daun cenderung lebih sempit, lebih tebal dan warnanya lebih gelap. Daun yang tumbuh di dalam air cenderung mempunyai ruang antar sel yang lebih besar daripada yang tumbuh di udara, demikian pula epidermisnya cenderung lebih tipis dan tanpa kutikula.

 

  1. C.    Pengertian Absisi

Absisi pada daun merupakan contoh senesen (penuaan) yang jelas. Selama masa pertumbuhan, dengan bertambahnya umur suatu tumbuhan akan di ikuti dengan proses penurunan kondisi yang mengarah pada kematian organ atau organisme. Bagian akhir dari proses perkembangan, dari dewasa sampai hilangnya pengorganisasian dan fungsi disebut senesen atau penuaan. Sel-sel yang yang telah berdiferensiasi pada dasarnya mempunyai masa hidup terbatas, sehingga penuaan akan di alami oleh semua sel pada saat yang berbeda-beda. Selama proses penuaan, pada tingkat sel terjadi penyusutan sruktur dan rusaknya membran seluler. Absisi merupakan senesen yang meliputi hanya daun-daunnya (Decidous senescence). Menggugurkan daun-daunnya, sementara organ tanaman lain tetap hidup. Proses yang di lakukan tumbuhan untuk memisahkan dan membuang organ tumbuhan seperti dedaunan, kelopak bunga, mahkota bunga, dan buah yang tidak lagi di perlukan tumbuhan atau yang terserang pnyakit dinamakan absisi.

Absisi adalah suatu proses secara alami terjadinya pemisahan bagian atauorgan tanaman, seperti: daun, bunga, buah atau batang. Menurut Addicot (1964)maka dalam proses absisi ini faktor alami seperti: panas, dingin, kekeringan akanberpengaruh terhadap absisi. Dalam hubungannya dengan hormon tumbuh, manamungkin hormon ini akan mendukung atau menghambat proses tersebut.

Penguguran daun (absisi) adalah suatu proses lepasnya tangkai daun dari tanaman yang menyababkan daun gugur dan terjatuh. Proses ini di pengaruhi oleh banyak faktor baik faktor dari dalam maupun dari luar. Proses  awal gugurnya daun di tandai dengan perubahan warna pada daun kemudian mengering dan akhirnya gugur. Penguguran daun ini biasanya terjadi pada daun yang sudah tua, terkena penyakit, atau untuk menghadapi kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan (kemarau dan musim dingin).

Absisi adalah suatu proses yang terjadi secara alami yaitu pemisahan bagian atau organ tanaman, seperti daun, bunga, buah atau batang. Menurut Addicot (1964) maka dalam proses absisi ini factor alami seperti panas, dingin, kekeringan akan berpengaruh terhadap absisi. Proses  penurunan  kondisi  yang menyertai pertambahan umur yang mengarah kepada kematian organ atau organisme disebut penuaan (senensensi). Gugurnya daun dipacu juga oleh faktor lingkungan, termasuk panjang hari yang pendek pada musim gugur dan suhu yang rendah. Rangsangan dari factor lingkungan ini menyebabkan perubahan keseimbangan antara etilen dan auksin. Auksin mencegah absisi dan tetap mempertahankan proses metabolism daun, tetapi dengan bertambahnya umur daun, jumlah etilen yang dihasilkan juga akan meningkat. Sementara itu, sel-sel  yang mulai  menghasilkan  etilen  akan mendorong pembentukan lapisan absisi. Selanjutnya etilen merangsang lapisan absisi terpisah dengan memacu sintesis enzim yang merusak dinding-dinding sel pada lapisan absisi.

 

  1. D.    Mekanisme Absisi

Pemisahan aktif daun dari cabang tanpa meninggalkn luka disebut absisi daun. Daun sering tanggal pada musim tertentu, tanpa meninggalkan luka. Macam-macam pengguguran juga mengakibatkan tanggalnya daun. Bagian lain dari tumbuhan juga dapat tanggal. Absisi merupakan adaptasi yang bermanfaat guna melepskan daun tua, buh masak, dan bunga yang tidak akan menghasilkan buah, serta merupakan cara pemangkas diri dari jumlah cabang terlampau banyak. Sehubungan dengan mekanisasi dalam pertanian, pengaturan absisi seperti dalam pengguguran daun terkendali, penjarangan buah, dan penentuan waktu gugurnya buah, menjadi amat penting.

Absisi daun biasanya disiapkan di dekat tangkai daun. Di daerah itu terjadi perubahan sitologi dan biokimiawi dalam sel di daerah pemisah yang akhirnya memisahkan daun dari cabang. Daerah jaringan yang bersangkutan disebut daerah absisi atau zone absisi. Pada daerah absisi terdapat lapisan pemisah yang menyebabkan pemisahan dan lapisan pelindung yang melindungi permukaan yang terdedah dari kekeringan dan serangan parasit.

Pada kebanyakan daun, bunga, dan buah dan beberapa batang, persiapan lapisan absisi terjadi sewaktu ontogeni. Namun lapisaan absisi bisa juga terjadi langsung setelah ada kondisi yang merangsang absisi. Pada daerah absisi, jaringan ter sklerefikasi sering tereduksi dan jaringan pembuluh terkondensasi di tengah, bukan di tepi. Pada beberapa spesies, daerah absisi seperti itu terdapat di tempat pertemuan tangkai dan sendi daun.

 

Gambar: zone absisi (daerah absisi)

Pada absisi bisa terjadi proses seluler, meskipun tidak semua pada satu spesies. Pemisahan dapat di dahului oleh pembelahan sel dan dinding sel baru; setelah itu, di pengaruhi oleh peristiwa penguraian yang berlangsung kemudian. Sel juga bisa membesar, dan jika terjadi di bagian proksimal, pembesaran itu dapat merangsang kekuatan untuk menyobek pada lapisan pemisah di sebelah distalnya. Terjadinya penuaan sel di daerah distal berakibat adanya pergerakan zat hara ke dalam daerah proksimal nampaknya diperlukan pada beberapa spesies. Salah satu aspek penuaan adalah lignifikasi dinding pada sel di daerah distal. Terjadinya tilosis seta pengendapan kalose dalam unsur tapis dan sel parenkim bisa terjadi sebelum absisi. Akhirnya, degradasi dinding sel dengan bantuan enzim, yang merupakan peristiwa utama dalam absisi menyebabkan pemisahan fisik. Perubahan dinding meliputi hilangnya lamela tengah sebagian karena hilangnya kalsium, hidrolisis dari dinding sel itu sendiri, dan rusaknya unsur yang telah tersklerefikasi.

Lapisan pelindung di bentuk dengan adanya pengendapan zat proteksi, seperti suberin dan gum, dalam dinding sel dan ruang antar sel. Pada spesies berkayu, lapisan pelindung ini akan sgera dig anti dengan periderm yang di bentuk di bawah lapisan pelindung. Periderm baru itu sinambung dengan periderm di bagian lain drai tubuh tumbuhan yang bersangkutan.

Tanggalnya daun tidak perlu selalu berasosiasi dengan peristiwa pelarutan dinding sel atau lamella tengah. Di kebanyakan monokotil dan beberaapa dikotil basah, tekanan fisik mengakibatkan pemisahan daun.

Banyak penelitian yang telah di lakukan terhadap zat pengatur absisi. Senyawa yang paling dikenal adalah auksin dan etilen. Auksin menghambat absisi jika di bubuhkan setelah daerah absisi di bentuk, namun belum mengalami pelemahan structural. Auksin juga dapat menghambat pembentukan zona absisi. Nampaknya, etilen merupakan senyawa yang memacu lengkapnya peristiwa absisi. Telah di ketahui bahwa ada keperluan untuk mensintesis enzim dalam absisi, terutma untuk merusak dinding sel dan mensintesis enzim respirasi. Peroksidase mengakibatkan peningkatan sintesis etilen, dan fosfstase berasosiasi dengan peristiwa penuaan.

 

  1. E.     Peranan Hormon dalam Absisi Daun

Mengenai hubungan antara absisi dengan zat tumbuh auksin, Addicot Etall (1955) mengemukakan bahwa absisi akan terjadi apabila jumlah auksin yang ada di daerah proksimal sama atau lebih dari jumlah auksin yang terdapat didaerah distal. Tetapi apabila junlah auksin berada di daerah distal lebih besar daridaerah proksimal maka tidak akan terjadi absisi. Dengan kata lain proses absisi iniakan terlambat. Teori lain (Biggs dan Leopld 1957, 1958) menerangkan bahwa pengaruh auksin terhadap absisi ditentukan oleh konsentrasi auksin itu sendiri.Konsentrasi auksin yang tinggi akan menghambat terjadinya absisi, sedangkanauksin dengan konsentrasi rendah akan mempercepat terjadinya absisi. Teoriterakhir ditentukan oleh Robinstein dan Leopold (1964) yang menerangkan bahwarespon absisi pada daun terhadap auksin dapat dibagi ke dalam dua fase jika perlakuan auksin diberikan setelah auksin terlepas. Fase pertama, auksin akan menghambat absisi dan fase kedua auksin dengan konsentrasi yang sama akan mendukung terjadinya absisi.

  1. F.     Sebab-Sebab Terjadinya Absisi Daun

Gugurnya daun dipacu juga oleh faktor lingkungan, termasuk panjang hariyang pendek pada musim gugur dan suhu yang rendah. Rangsangan dari faktor lingkungan ini menyebabkan perubahan keseimbangan antara etilen dan auksin.Auksin mencegah absisi dan tetap mempertahankan proses metabolisme daun,tetapi dengan bertambahnya umur daun jumlah etilen yang dihasilkan juga akan meningkat. Sementara itu, sel-sel  yang mulai  menghasilkan  etilen  akan mendorong pembentukan lapisan absisi. Selanjutnya etilen merangsang lapisan absisi yang terpisah dengan memacu sintesis enzim yang merusak dinding-dinding sel pada lapisan absisi. Peranan etilen dalam memacu gugurnya daun lebih banyak diketahui daripada  peranannya dalam  hal  perubahan warna  daun  yang rontok  dan pengeringan daun. Pada saat daun rontok, bagian pangkal tangkai daunnya terlepas  dari  batang. Daerah yang terpisah  ini disebut lapisan absisi  yang merupakan areal sempit yang tersusun dari  sel-sel parenkima berukuran keci dengan dinding sel yang tipis dan lemah.Proses pencernaan dinding, yang  disertai  dengan  tekanan  akibat pertumbuhan yang tidak imbang antara sel proksimal yang  membesar dan sel distal yang menua di zona absisi, mengakibatkan pematahan. Selama konsentrasi auksin yang lebih tinggi dipertahankan di helai daun, pengguguran dapat ditundanamun penuaan menyebabkan penurunan tingkat auksin pada organ tersebut dankonsentrasi etilen mulai meningkat. Etilen, zat pemacu pengguguran yang terkuat dan tersebar luas diberbagai organ tumbuhan dan pada banyak spesies tumbuhan menyebabkan pembesaran sel dan menginduksi sintesis serta sekresi hidrolase pengurai dinding sel. Ini akibat efeknya pada transkripsi, sebab jumlah molekul mRNA yang menjadikan hidrolase (paling tidak selulase) meningkatkan sekali setelah diberi perlakuan etilen.

Gugur daun pada musim gugur merupakan adaptasi tumbuhan untuk mencegah kehilangan air melalui penguapan pada musim salju karena pada saat itu akar tidak mampu menyerap air pada tanah yang membeku. Bagi tumbuhan, gugurnya daun ini berguna untuk membuang organ yang tidak berguna yang mungkin sebagai sumber infeksi yang potensial dan pada beberapa spesies untuk memberi tempat bagi daun baru yang akan tumbuh pada musim berikutnya.

Tempat lepasnya daun pada tumbuhan biasanya terjadi pada bagian pangkal daunya, karena pada bagian ini terdapat suatu lekukan dan juga terdapat  lapisan sel-sel khusus yang memang sudah di siapkan untuk proses penguguran daun.  Sel sel tersebut sering disebut sebagai zona absisi. Ketika daun sudah terlepas maka ada bagian yang terbuka pada bagian pelepasan tersebut yang memungkinkan terjadinya kontak langsung dengan lingkungan. Namun sebelum pelepasan daun terjadi pada zona ini sudah di siapkan suatu lapisan pelindung bergabus  sehingga terhindar dari kekeringan dan parasit.

 

 

 

Penguguran pada daun tidak terjadi begitu saja namun banyak faktor yamg bisa mempengaruhinya di antaranya adalah kehidupan dari sel tubuhan, nutrisi tumbuhan, air dalam tumbuhan, dan hormon dalam tumbuhan.

1. Kehidupan sel tubuhan

Dalam hal ini erat kaitanya dengan penuaan sel tumbuhan. Sel pada tumbuhan setelah mengalami suatu diferensiasi maka akan melakukan suatu proses metabolisme sesuai dengan fungsinya masing-masing. Namun tak selamanya sel tersebut dapat melakukannya funsinya secara terus menerus. Sel tersebut akan mengalami proses yang di namakan penuaan, di mana akan terjadi suatu penurunan tingkatan metabolisma yang dilakukan oleh sel. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah adanya penumpukan sisa-sisa metabolisme yang dapat bersifat racun. Hal inilah yang nantinya akan mempengaruhi kinerja sel dalam melakukan metabolisme sehingga terjadi penurunan hasil metabolisme secara berangsur-angsur.

Semua sel akan mengalami proses penuaan tak terkecuali pada sel daun pada tumbuhan.  Dalam daun banyak trjadi proses metabolisme salah satunya adalah untuk menghasilkan enzim-enzim untuk proses fotosintsis. Hasil dari fotosintesis akan di gunakan baik untuk sel itu sendiri maupun untuk sel lainya untuk melakukan kegiata. Namun ketika sel-sel pada daun mengalami suatu proses penuaan maka metabolisma akan menurun, jika sudah demikian maka hanya sedikit hasil yang di peroleh dari metabolisme tersebut termasuk pembentukan enzim.

Akibatnya foto sintesis berlangsung tidak optimal kerna kurangnya enzim-enzim yang berperan dalam fotosintesis, jika penurunan ini terjadi secara terus menerus bisa berakibat fatal bahkan fotosintesis akan terhenti . akibatnya sel kekurangan zat-zat yang di perlukan untuk kelangsungan hidupnya. Meskipun fotosintesis masih berlangsung pada daun lainnya namun hasilnya di peruntukan bagi sel sel yang masih muda dan yang aktif membelah. Maka  untuk mensiasati hal tersebut daun akan merombak klorofil yang ada untuk memenuhi kebutuhanya, perombakan ini  yang nantinya akan berakibat perubahan warna pada daun seperti menguning. Secara perlahan klorofil akan habis di sintesis dan tak ada zat lain lagi yang bisa di rombak maka sel bener-benar kekurangan zat yang di butuhkan hal ini dapat menyebabkan kematian pada sel-sel daun begitu juga dengan sel di daerah absisi sel ,selnya akan melemah sehingga tangkai daun akan lepas dan daunpun akan gugur.

2. Nutrisi Dalam Tumbuhan

Nutrisi diperlukan oleh tumbuhan untuk bahan pembangun tubuhnya, nutrisi ini dapat berupa bahan-bahan organik yang biasanya diperoleh dari dalam tanah yeng di ambil oleh akar. Pengarun unsur terhadap gugurnya daun erat hubungannya dengan gejala kekahatan yang di timbulkan oleh kekurangan unsur tersebut. Banyak di antaranya unsur-unsur yang jika kekurangan pada tumbuhan maka akan menyebabkan gugurnya daun pada tumbuhan.

Berikut adalah gejala yang terjadi yang mengakibatkan gugurnya daun:

a. Klorosis dan nekrosis

Nitrogen merupakan komponen yang menyusun protein dan klorofil, maka jika tumbuhan kekurangan unsur ini akibatnya enzim-enzim yang diperlukan dalam fotosintesis tidak terbentuk dan juga pembentukan klorofil terhambat sehingga tumbuhan kekurangan zat-zat yang diperlukan (gula, enzim-enzim untuk metabolisme dan protein untuk mengganti kerusakan membran dan dinding). Jika hal ini terjadi secara terus menerus maka daun akan kehabisan klorofil dan proses metabolisme terhenti. Akibatnya daun akan menguning yang biasa di sebut sebagai klorosis dan daun tidak mampu berfotosintesis. jika terus-menerus berlangsung maka akan berakibat kematian pada sel yang akan berdampak pada gugurnya daun.

Selain kekurangan nitrogen klorosis dapat juga terjadi karena tanaman kekurangan unsur S, K, Ca, Mg, dan Fe

Selain itu karna tidak di hasilkannya zat-zat penting terutama makanan bagi sel karna metabolisme dan fotosintesis tidak berlangsung , maka akibatnya sel akan kekurangan makan. Untuk menangulangi keadaan tersebut sel akan mengambil nutrisi dari sel-sel tetangganya. Ini berakibat sel yang di ambil nutrisinya akan mati. Jika sudah banyak sel-sel daun yang mati maka daun tidak lagi dapat melakukan fungsinya. Akhirnya sel-sel daun akan mati seluruhnya dan daunpun akan gugur.

Nekrosis terjadi karena tumbuhan kekurangan unsur N, P, K, Mg, Fe, Mn, dan Cu.

b. Hilangnya Komponen Penyusun Membran Sel

Fosfor adalah unsur tang menyusun fospolipid, dengan adanya posfor di fosfolipid membuat membran sel menjadi lebih kuat. Namun jika sel kekurangan unsur ini maka sel akan mengambil fosfor yang ada di membran akibatnya komponen fosfor di membran menjadi berkurang hal ini akan membuat sel akan lebih rapuh. Karenan selnya yang rapuh ini maka pada daerah absisi sel-selnya muhak lepas yang berakibat gugurnya daun.

Selain akibat kekurangan pospor rapuhnya sel juga di akibatkan karena kekurangan unsur Ca.

 

3. Air dalam tubuhan

Air  sangat di perlukan oleh tumbuhan, selain sebagai penyusun sebagian besar tubuh tumbuhan air juga berperan dalam reaksi-reaksi biokimia dalam tumbuhan. Selain itu air juga bisa mempengaruhi pengguguran daun pada tumbuhan. Pengaruh air terhadap pengguguran ini biasanya dipengarui oleh musim yaitu musim panas dan musim dingin yang keduanya erat kaitannya dengan perubahan suhu dan berakibat pada kekurangan air.

Pada musim  kemarau  laju transpirasi meningkat maka akibatnya banyak air yang menguap. Pada siang harinya stomata akan membuka untuk proses pertukaran zat, dan pada saat stomata membuka inilah uap air akan keluar. akibatnya tumbuhan banyak kekurangan air. Pada waktu ketersediaan air dalam tanah masih cukup air yang keluar akan segera di gantikan dengan air yang ada di dalam tanah melalui penyerapan akar. Namun pada saat musim kemarau ketersediaan air sangat sedikit  sehingga jumlah air yang keluar lebih banyak di bandingkan dengan jumlah air yang di serap dan jika di biarkan terus menerus maka akan berakibat layu pada tanaman dah bahkan kematian. untu menanggulangi hal tersebut maka tanaman akan mengugurkan daunnya. Adapun tujuan dari pengguguran daunnya adalah untuk menghindari penguapan yang berlebihan. Sebelum dau-daun di gugurkan zat-zat yang terdapat dalam daun sebelumnya sudah di sintesis dan sudah di bawa ke batang untuk di simpan. zat-zat  yang sudah di simpan bisa juga di pakai untuk membentuk daun-daun ketika ketersediaan air sudah cukup. Tumbuhan memilih mengugurkan daunnya karena air cendrung akan keluar dari stomata pada daun dan ketika daun di gugurkan maka air keluar bisa di minimalkan.

Pada musim dingin air akan membeku begitu juga yang ada di dalam tanah, akibatnya tumbuhan sulit untuk memperoh air karena ketika membeku ukuran molekul air akan mengembang sehingga tak mampu di serap oleh akar. Karena tak mampu menyerap air maka ketersedian air akan berkurang karna terus di pakai untuk fotosintesis dan reaksi biokimia lainnya dah bahlkan bisa habis dan jika hal itu terjadi akan sangat berbahaya bagi tumbuhan tersebut. Untuk mensiasati hal tersebut maka tanaman akan memilih untuk mengugurkan daunya. Tujuan dari penguguran daun di musim kemarau juga bertujuan agar menghindari kerusakan pada daun bila berada pada suhu yang dingin maka dari itu daun akan di gugurkan dan zat-zat yang ada di dalamnya akan di sintesis dan di simpan dalam batang. Setelah itu tumbuhan akan melakukan dormansi (istrahat) untuk meminimalkan pengunaan air dan zat-zat lainnya.

 

4. Hormon pada tumbuhan

Hormon yang berperan dalam penguguran dau adalah auksi dan etilen.  Keduanya saling terkait dan tidak bisa di pisahkan. Interaksi antara kedua hormon tersebut sering disebut sebagai fithohormon. Kesetimbangan kedua hormon tersebut mempengaruhi proses penguguran pada daun. Pada saat dau masih muda masih banyak ausin yang terdapat dalam daun tersebut karena masih dalam fase pertumbuhan. Adanya kadar auksin yang cukup tinggi ini mempengaruhi kadar etilen yang ada pada daun. Etilen akan terhambat perkembangannya karna kadar auksin yang tinggi tersebut. namun ketika daun sudah menua berangsu-angsur jumlah insulin akan terus menurun akibatnya sel sel padsa lapisan absisi lebih sensitif terhadap etilen. Jika hal itu sampai terjadi maka etilen akan mempengaruhi pembentukan suatu enzim pektitase dan selulase. Kedua enzim tersebut akan melarutkan lamela tengan dan dinding pada sel-sel absisi. Akibatnya sel sel absisi akan lemah dan tidak mampu lagi menopang daun hinngga akhirnya daun akan gugur.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Absisi daun merupakan pengguguran daun yang di awali oleh sense (penuaan).
  2. Gugurnya daun diakibatkan oleh munculnya lapisan absisi di dasar petiol, sel-sel parenkim dengan dinding yang tipis melakukan tekanan turgor karena dinding selnya menipis akibat lamella tengah yang melarut ke daerah absisi akibat dari aktivitas enzim hidrolitik. Terbentuk lapisan pelindung yang nantinya akan menutup patahan-patahan pada daerah absisi dan pada akhirnya daun tejatuh dengan sentakan angin serta gravitasi.
  3. Sel di dasar petiol kekurangan Ca, Cl dan P hingga menimbulkan absisi daun.
  4. Auksin yang tinggi merangsang produksi etilen, etilen menstimulasi asam asisat, kemudian asam asisat menstimulasi daun untuk gugur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Beck, Charles. 2010. An Introduction to Plant Struktur and Development. University of Michigan : Cambrige University Press

Hasnunidah, Neni. 2010. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Lampung: universitas lampung

Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: Institut Teknologi Bandung

Ratna, Intan. 2008. Makalah Peranan Fungsi Fiohormon Bagi Pertumbuhan Tanaman. Bandung: Unpad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s