NII melambaikan tangannya di Indonesia

Pada masa demokrasi sekarang ini suatu organisasi sangatlah penting, akan tetapi perlu kita garis bawahi bahwa tidak sembarangan organisasi penting melainkan organisasi yang kira-kira bisa memprioritaskan akan aspirasi masyarakat itu yang diutamakan. Pada realitasnya tidak sedikit organisasi malah membuat mayarakat gelisah teta. Dalam kemunculan berbagai organisasi yang berkembang sekarang ini sikap yang perlu kita manifestasikan adalah tasamuh (saling hormat-menghormati).

Pembaca yang budiman, kita mungkin sering mendengar ketika mulai SD sampai sekarang ini mengenai berbagai organisasi Islam maupun sekuler yang ada di Idonesia. Mulai Dari NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, NII (Negara Islam Indonesia) maupun organisasi yang lainnya.

Disini penulis hanya akan membahas sekilas tentang postulat bagaimana penyebaran NII dan akibat eksisnya NII di Indonesia. Bila kita telusuri sekilas tentang kemunculannya NII bahwa NII merupakan sisa-sisa pergerakan organisasi pada periode ketika periode awal kemerdekaan kemerdekaan RI.  Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah nama yang tak dapat dilepaskan dari pembahasan masalah yang berkaitan dengan Negara Islam Indonesia. Dialah pendiri negara berasas Islam tersebut. Dalam sejarah yang kita pelajari, Kartosoewirjo adalah tokoh yang tidak lebih dari seorang pemberontak yang telah mendirikan negara baru di wilayah negara Republik Indonesia.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sebuah gerakan yang mengatasnamakan Negara Islam Indonesia sangat gencar melakukan rekrutmen anggota baru, tetapi cara-cara yang mereka gunakan ternyata berlawanan dengan syariah dan sunnah Rasulullah saw. Hal ini sangatlah memprihatinkan sekali khususnya kita kalangan kaum muslimin.

Islam tidak pernah mengajarkan pengikutnya untuk bersikap egois maupun memaksa. Tidak ada paksaan dalam untuk masuk agama Islam agar umat manusia sadar bahwa Islam adalah agama yang senantiasa mengutamakan HAM dan keadilan.

NII yang akhir-akhir ini banyak menjadi buah bibir masyarakat sesungguhnya hanyalah suatu manipulasi mereka-mereka yang bersemboyan ingin menganut hukum Islam saja dan merenewalisasi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Kehadiran NII sesungguhnya banyak terjadi kontradiksi bagi tiap golongan masyarakat, secara garis besar bisa kita bagi dua argumen yaitu

1. Keberadaannya di Indonesia dikatakan benar karena mereka punya tujuan tertentu dan sebagai bukti bahwa jiwa-jiwa Islam mereka hidup dalam dirinya.

2. Keberadaannya dianggap kurang benar karena tidak sinkron dengan sikon masyarakat, bisa dibuktikan dengan adanya berbagai penyimpangan atau distorsi hukum syari’at.

Oleh karena itu agar NII seantiasa eksis maka berbagai perekrutan dilakukan sebagai berikut :

1. Dalam mendakwahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat, dan baru akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan.

2. Para calon yang akan mereka dakwahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relative rendah, bahkan dapat dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga, para calon dengan mudah dijejali omonganomongan yang menurut mereka adal

3. Calon utama mereka adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan dalih islam. Islam hanya sebagai alat penyedot uang.

4. Ketika sang calon akan dibai’at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Besar uang yang harus diberikan adalah Rp 2.500.000,-  ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar.

5. Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya dengan alasan kahfi.

6. Tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh. Padahal, mereka mengaku telah berada dalam Madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di Madinah-lah justru Rasulullah saw. benar-benar menerapkan syari’at Islam.

7. Sholat lima waktu mereka ibaratkan dengan doa dan dakwah. Sehingga, jika mereka sedang berdakwah, maka saat itulah mereka anggap sedang mendirikan shalat.

8. Shalat Jum’at diibaratkan dengan rapat/syuro. Sehingga, pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka anggap sedang mendirikan shalat Jum’at.

9. Untuk pemula, mereka diperbolehkan shalat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk lima waktu shalat.

Beberapa media masa mengabarkan  bahwa  sasarannya empuk NII adalah para mahasiswa. Mengapa? Karena masa mahasiswa adalah masa-masa berpikir yang lebih mengandalkan rasio dibandingkan literatur yang lain . Hal ini menimpa beberapa mahasiswa UMM yang terperangkap dalam ranjau NII.

Mengenai NII, kalau kita analogikan antara sila-sila pancasila dengan Syari’at Islam, apakah ada sila-sila pancasila mendistorsi syari’at Islam? Tentu saja tidak ada. Karena pada waktu sila-sila pancasila dibuat berdasarkan kesepakatan kaum nasionalis Islam dengan kaum nasionalis sekuler pada saat itu. Sesuai UUD 1945 pasal 1, pasal 26, pasal 27, pasal 28, pasal 29 da pasal 29, bahwasannya Negara Indonesia adalah negara hukum yang yang bentuk negaranya adalah republik, yang demokrasi serta menjunjung tinggi norma dan keadilan HAM dan Indonesia sendiri memberi kebebasan kepada para warga negaranya untuk memeluk agama yang dia yakini benar dan cocok dengan kehendak hatinya.

Jadi kalau ternyata ada ormas (organisasi masyarakat) yang menginginkan ideologi dan paradigma baru diluar dari yang telah disepakati maka hal itu perlu dianalisis ulang dengan asumsi apakah dengan ideologi dan paradigma baru tersebut sesuai dengan haliah dan kenyamanan masyarakat atau tidak.

Akibat negatif yang mungkin terjadi adalah muncul berbagai asumsi bahwasannya orang-orang Islam identik dengan kekerasan padahal pada hakikatnya tidak. Konklusif dan ibaroh yang kita ambil dari pemaparan diatas bahwa dalam suatu perbuatan kita harus mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan golongan dan pribadi.

Sebab jika kita senantiasa mementingkan golongan maka spekulatif yang terjadi adalah sifat egois dan keruntuhan ukhuwah islamiah. Na’udzubillahi min dzalik…..Mari kita senantiasa  peduli terhadap orang lain dengan segenap daya dan upaya yang ada dalam diri kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s